Saat Persib melawan Persija (pikiran-rakyat.com)

Ada yang sudah tahu keputusan sanksi untuk Persib Bandung setelah bertanding dengan Persija? Degradasikah?

Sebagaimana kita ketahui, Persib dituduh enggan meneruskan pertandingan dan memilih WO sebagai bentuk protes atas kepemimpinan wasit asing yang dinilainya kontroversi. Banyak yang menilai apa yang dilakukan Persib adalah WO, dan hukumannya salah satunya adalah degradasi. Meskipun Persib sendiri menyanggah tuduhan itu.

Lucuya, PT LIB dan Komdis sendiri malah ‘main pingpong’ menghadapi masalah ini, tidak seperti menghadapi klub yang lain yang begitu enteng dan cepat memutuskan denda sekian dan sanksi ini dan itu. Tapi menghadapi Persib, mereka seakan kebingungan.

Dilansir dari CNNIndonesia, 09/11/2017, menurut COO PT LIB Tigor Shalomboboy, aksi keluar dari pertandingan yang dilakukan Persib termasuk pelanggaran Kode Disiplin PSSI. Sehingga, itu menjadi ranah Komdis untuk memutuskannya.

Namun, hal berbeda justru disampaikan Asep Edwin Firdaus selaku ketua Komisi Disiplin. Menurut Asep pelanggar regulasi kompetisi merupakan wewenang PT LIB untuk menjatuhkan sanksi. Komdis hanya menghukum apabila ada peserta yang melanggar kode disiplin.

“Yang berhak menafsirkan Persib mundur itu PT LIB. Karena regulasi bukan wewenang Komdis. Komdis itu hanya mengatur yang ada di dalam kode disiplin,” kata Asep dari Vikingpersib.co.id, 08/11/2017. Nah, Lho?

Persib tak akan degradasi (fourfourtwo.com)

Pendapat saya; Persib tidak akan degradasi! Mau tahu penjelasannya? Oke. Namun saya harap kalian berpikir dewasa menerima fakta ini. Bagi yang kontra atau benci Persib, jangan sampai fakta ini membutakan kalian untuk terus membenci Persib, terima saja. Bagi Bobotoh, jangan sampai fakta ini membuat kalian jadi sombong. Cukuplah kesombongan kalian selama ini berbuah antipasti dari yang lain.

Kenapa Persib tidak didegradasi? Karena Liga 1 punya hutang budi kepada Persib. Lho, hutang budi apanya? Memang itu sponsor Liga 1 yang bawa siapa? Persib. Ya, Persib-lah yang ‘membawa’ sponsor sehingga Liga 1 bisa terlaksana.

Begini penjelasannya. Menurut Risha Adi Wijaya, salah seorang direktur PT LIB, dilansir dari Tirto.id, saat wacana pembentukan operator dibentuk, PSSI kesulitan mencari sosok yang bisa membantu mencarikan dana agar liga berlangsung. Saat itulah Glenn Sugita hadir.

Singkat cerita, Glenn Sugita menyanggupi untuk mendatangkan sponsor untuk keberlangsungan Liga. Hingga kemudian, Glen diangkat sebagai Komisaris Utama PT LIB.

Glen Sugita bukanlah orang baru dipersepakbolaan tanah air. Glen adalah salah seorang petinggi PT Persib Bandung Bermartabat. Polesan tangan dingin dan visi bisnisnya mampu menyulap Persib menjadi salah satu klub mapan dengan kekuatan finansial yang hebat. Sergio van Dijk, Michael Essien dan Carlton Cole adalah bintang-bintang sepakbola dunia yang berhasil didatangkan Glen ke Persib.

Persipura juara TSC 2016 (liputan6.com)

Ada yang masih ingat dengan Turnamen TSC 2016? ISC adalah turnamen jangka panjang yang dikelola oleh PT GTS, turnamen ini menghasilkan Persipura Jayapura sebagai pemenangnya.
Siapa di balik PT GTS? Dialah Glen Sugita. Salah satu keberhasilan Glenn di PT GTS adalah sukses mendatangkan sponsor senilai Rp25 milar dari Bank BTPN agar turnamen bisa berjalan. Northstar Pacific adalah pemilik saham terbesar di Bank BTPN. Pemilik Northstar Pacific adalah Glen Sugita.
Saat TSC sudah bubar dan liga kembali bergulir, PSSI membentuk lembaga anyar yakni PT Liga Indonesia Baru (PT LIB). Dan lagi-lagi, Glenn Sugita masuk ke dalam kepengurusan. Jabatannya sebagai Komisaris Utama. Masuknya Go-Jek dan FWD menjadi sponsor utama Liga 1 tak lepas dari peran Glenn yang juga pemilik saham Go-Jek. Sejak 2015, Go-Jek mendapatkan investasi besar dari Northstar Group mencapai Rp7,2 triliun.

Selain gila bola dan menjadi Komisaris di Persib, Glenn adalah pengusaha kelas kakap. Ia pendiri perusahaan investasi multinasional Northstar Pacific, Northstar Group yang berbasis di Singapura. Lewat group inilah kerajaan bisnisnya menggurita, merambah dan mendanai sepakbola tanah air.
Sampai di sini mengerti kan, kenapa PSSI dan Liga begitu sungkan terhadap Persib? Masih mau terus jelek-jelekin Persib? Sedangkan di jersey tim kesayangannya justru sponsornya Go-Jek, milik petinggi Persib.

Glenn Sugita saat bersama Djanur dan Erick Tohir (sidomi.com)

Kalau diterangkan tentang keterlibatan dan jasa Glenn Sugita, yang notabene ‘orang Persib’ terhadap keberlangsungan Liga 1 tentu akan panjang. Yang jelas Liga 1 dan tim-tim lainnya punya ‘hutang budi’ terhadap Persib.

Belum lagi jika berbicara nilai jual liga. Keberadaan Persib di Liga 1 mampu mendongkrak nilai jual dan berita Liga Indonesia di mata dunia. Mendatangkan Essien dan Cole, serta merta memicu tim-tim lain mendatangkan marquee player kelas dunia. Hal yang sama pasti akan dilakukan Persib di musim depan. Kono, Robin van Persie ada dalam list Maung Bandung.

Ditambah lagi, Persib adalah tim yang begitu 'berdaging' di mata federasi. Berapa ratus juta yang telah digelontorkan Persib akibat denda yang diturunkan PT Liga. Jika Persib degradasi, tentu tak akan ada lagi 'hal' seperti itu.

Kembali ke masalah hukuman Persib, PT LIB sendiri hingga kini menganggap apa yang terjadi adalah diskresi wasit, sesuai apa yang dilaporkan oleh wasit yang memimpin pertandingan, Shaun Evans.

Sesuai Laws of The Game FIFA, wasit memang memiliki diskresi (keistimewaan) untuk menghentikan pertandingan jika dianggap ada interferensi pada sebuah pertandingan meski laga belum sampai 90 menit.

Jadi laga diputuskan tetap dimenangkan oleh Persija 1-0. Adapun hukuman atau sanksi ke pihak Persib hanya dijatuhkan kepada manajer, Umuh Muchtar dan Vladimir Vujovic. Jadi, buat yang berharap Persib degradasi, saya pastikan itu hanya mimpi.

Sumber